Senin, 14 Desember 2015

9 Virus Paling Mematikan

Perjuangan manusia dalam melawan virus telah dimulai jauh sebelum spesies kita sempurna sampai telah berevolusi menjadi bentuk modern.

Untuk beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus, ada vaksin dan obat antivirus yang mampu mencegah penyebaran penyakit lebih luas. Bahkan, penyakit cacar telah berhasil dimusnahkan. Tetapi, wabah ebola yang terjadi di Afrika Barat menunjukkan bahwa perang kita melawan virus masih jauh dari selesai.

Virus yang memicu epidemi tersebut, ebola Zaire, membunuh hingga 90 persen orang yang terinfeksi dan menjadikannya keluarga ebola yang sulit dimusnahkan.

ebola memang mematikan, namun sebenarnya di luar sana masih banyak virus lain yang bahkan lebih berbahaya. Simak penjelasan Elke Muhlberger, pakar virus ebola dan profesor mikrobiologi di Universitas Boston.

Berikut adalah 9 virus berbahaya di bumi berdasarkan pada risiko seseorang meninggal dunia jika terinfeksi dan banyaknya angka kematian dan orang yang terancam oleh virus ini.

1. Virus Marburg
Para ilmuwan mengidentifikasi virus Marburg pada tahun 1967, ketika wabah kecil terjadi di kalangan pekerja laboratorium di Jerman yang melakukan kontak dengan  monyet impor dari Uganda.

Virus Marburg mirip dengan ebola yang keduanya dapat menyebabkan demam tinggi dan perdarahan. Ini berarti orang yang terinfeksi akan mengalami demam tinggi dan pendarahan di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan shock, kegagalan organ dan kematian.

Angka kematian saat wabah pertama adalah 25 persen, tapi angkanya naik 80 persen pada wabah tahun 1998-2000 di Republik Demokratik Kongo, serta pada tahun 2005 wabah menimpa di Angola, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

2. Virus ebola
Wabah ebola pertama pada manusia terjadi bersamaan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada tahun 1976. ebola menular melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau jaringan dari orang atau hewan yang terinfeksi ebola

Salah satu virus, ebola Reston, tidak membuat orang sakit. Tapi untuk virus Bundibugyo, tingkat kematian hingga 50 persen dan meningkat hingga 71 persen untuk virus Sudan, menurut WHO.

3. Rabies
Meskipun vaksin rabies untuk hewan peliharaan yang diperkenalkan pada tahun 1920 telah membuat infeksi ini jarang terjadi di negara maju, tapi rabies masih jadi masalah serius di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Virus ini merusak otak dan ini penyakit yang buruk. Tapi kami memiliki vaksin antirabies, dan kami memiliki antibodi yang bekerja melawan rabies, jadi jika seseorang sempat digigit oleh hewan rabies kita bisa menyembuhkan orang ini," katanya. Meski begitu, tanpa pengobatan seseorang bisa mati.

4. HIV
Di dalam dunia yang modern, HIV masih jadi salah satu pembunuh terbesar. Diperkirakan 36 juta orang telah meninggal akibat HIV sejak penyakit ini pertama kali dikenal pada awal 1980-an. "Penyakit menular yang paling berdampak buruk pada umat manusia saat ini adalah HIV," kata Dr.Amesh Adalja, pakar penyakit menular.

Obat antivirus yang kuat telah memungkinkan bagi orang untuk hidup selama bertahun-tahun dengan HIV. Tetapi penyakit ini masih jadi pembunuh di negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana infeksi HIV terjadi sebesar 95 persen. Hampir 1 dari setiap 20 orang dewasa di bagian Sahara Afrika mengidap HIV-positif, menurut WHO.

5. Cacar
Pada tahun 1980, Majelis Kesehatan Dunia menyatakan dunia telah  terbebas dari cacar. Tapi sebelum itu, manusia berjuang melawan cacar selama ribuan tahun dan penyakit ini menewaskan sekitar 1 dari 3 orang yang terinfeksi. Korban yang masih bisa bertahan dengan korban yang selamat mengalami luka permanen dan biasanya kebutaan.

6. Hanta Virus
Sindrom Hantavirus  Pulmonalis (HPS) mendapat perhatian luas di Amerika Serikat pada tahun 1993, ketika seorang yang awalnya sehat yaitu pemuda Navajo dan tunangannya tinggal di daerah Four Corners Amerika Serikat, meninggal dalam beberapa hari saat mengalami sesak napas.

Virus ini tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain, tapi orang terjangkit penyakit itu dari paparan kotoran tikus yang terinfeksi.  Sebelumnya, hantavirus yang berbeda menyebabkan wabah di awal 1950-an, selama Perang Korea. Lebih dari 3.000 tentara terinfeksi dan sekitar 12 persen dari mereka meninggal.

7. Influensa
Menurut WHO, selama musim flu sekitar 500.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat penyakit tersebut. Tapi kadang-kadang, ketika virus flu baru muncul akan terjadi pandemi dan jumlah kematiannya lebih tinggi lagi.

Pandemi flu yang paling mematikan, kadang-kadang disebut flu Spanyol, dimulai pada tahun 1918 dan menyebabkan kesakitan pada 40 persen dari populasi dunia serta menewaskan sekitar 50 juta orang. Para ahli kini mencemaskan kemunculan virus influensa baru yang bisa menular dengan cepat antar manausia.

8. Demam Berdarah
Virus demam berdarah pertama kali muncul pada tahun 1950 di Filipina dan Thailand, dan sejak itu menyebar ke seluruh daerah tropis dan subtropis seluruh dunia. Sekitar 40 persen dari populasi dunia sekarang tinggal di daerah di mana demam berdarah adalah endemik, dan penyakit yang dibawa oleh nyamuk itu  kemungkinan menyebar lebih jauh.

Menurut WHO, demam berdarah diderita 50 sampai 100 juta orang pertahun. Meskipun tingkat kematian demam berdarah lebih rendah dari beberapa virus lain, sebesar 2,5 persen, virus ini dapat menyebabkan kondisi syok, sama seperti yang dialami pasien ebola.

Belum ada vaksin untuk mencegah demam berdarah, tetapi uji klinis besar vaksin eksperimental yang dikembangkan oleh pembuat obat Perancis, Sanofi memiliki hasil yang menjanjikan.

9. Rotavirus
Dua vaksin telah tersedia untuk melindungi anak dari rotavirus, penyebab utama penyakit diare yang parah pada bayi dan anak-anak. Virus ini menyebar secara fecal-oral, yang berarti ada partikel dari feses yang masuk ke dalam makanan dan termakan.

Walaupun anak-anak di negara maju jarang meninggal akibat infeksi rotavirus, penyakit ini adalah pembunuh di negara berkembang. WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia, 453.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat infeksi rotavirus pada tahun 2008. (Eva Erviana)
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: livescience

Waspadai Penyebab Penularan Hepatitis

Pihak Institut Pertanian Bogor sudah menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) atas terjadi infeksi hepatitis A. Jumlah kasus terus meningkat bahkan sampai puluhan mengingat kejadiannya berawal di kampus maka jumlah yang terinfeksi bisa lebih besar lagi.

Jika tidak dilakukan upaya-upaya pencegahan yang signifikan, KLB ini bisa menjadi wabah.

Kita tahu bahwa infeksi hepatitis A merupakan infeksi yang endemis di masyarakat kita, pengalaman klinis saya jumlah kasus akan meningkat di akhir kemarau dan di masa awal musim hujan seperti saat ini. 

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan beberapa hal yang memang perlu diketahui mengenai penyakit ini.

Hepatitis A adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A,  ditularkan melalui makanan dan minuman tercemar, dan juga melalui kontak langsung. Selain itu hubungan seksual juga bisa menjadi penyebab tertular hepatitis A jika melakukan seksual secara anal atau oral.

Virus ini  terdapat pada feses pasien yang terinfeksi, oleh karena itu makanan dan minuman menjadi media utama penyebab penularan infeksi ini.

Kasus di kampus IPB memang masih menunggu hasil penelitian yang dilakukan, tetapi saya menduga berasal dari makanan atau minuman yang tercemar. Karena sebenarnya tidak mudah untuk tertular dari satu orang ke orang lain yang hanya bertemu di kampus.

Pasien dengan hepatitis A, biasanya datang sudah kuning dan BAK seperti air teh. Gejala yang timbul bisa ringan sampai berat bahkan jika terjadi hepatitis fulminan akibat virus hepatitis A ini dapat menyebabkan kematian.

Sebelumnya pasien mengalami common cold, seperti orang yang mengalami gejala flu, sakit-sakit badan, mual dan kadang disertai muntah, nafsu makan menurun dan lemas. Pasien juga merasakan nyeri di perut kanan atas karena memang pasien dengan infeksi hepatitis A yang meradang adalah livernya yang sebagian besar berada di perut kanan atas.

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kadar bilirubin dan peningkatan yang tinggi dari SGOT dan SGPT. Pemeriksaan antibodi terhadap virus hepatitis A (anti HAV) yang memastikan bahwa seseorang tersebut terjangkit infeksi hepatitis A.

Masa inkubasi yaitu masa masuknya penyakit sampai timbul gejala berlangsung antara 2-6 minggu. Penyakit ini bisa sembuh total dan yang penting pasien harus istirahat total.

Obat-obatan yang diberikan sifatnya hanya menghilangkan gejala yang muncul, misalnya jika diare diberikan obat anti diare, kalau mual diberikan anti mual jika demam diberikan obat anti demam jika lemas diberikan vitamin dan asupan makannya diperhaikan.

Obat suplemen hati kadang kala diberikan untuk mengurangi peradangan hati yang terjadi. Pasien memang perlu diisolasi dan jangan tidur sekamar dengan orang sehat, di RS pun biasanya pasien tidur hanyak sendiri di kamar dan dipisah dengan pasien lain.

Sebagian pasien memang tidak perlu dirawat tetapi jika pasien mengalami mual dan muntah dan tidak mau makan sebaiknya memang dirawat untuk mendapat infus cairan dan makanan.

Hepatitis virus A tidak bisa menjadi hepatitis B. Karena memang virus penyebabnya berbeda. Oleh karena itu kalau pernah divaksinasi oleh vaksin hepatitis B tidak berarti juga sudah terlindungi dari  infeksi virus hepatitis A. Tetapi bisa saja dalam satu kasus pasien mengalami 2 macam infeksi yaitu infeksi virus B dan juga hepatitis virus A.

Pencegahan yang terpenting adalah hidup sehat dengan makan yang teratur dan cukup gizi, istirahat cukup dan banyak mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran. Cuci tangan pakai sabun yang rutin, sebelum dan sesudah makan dan setelah keluar dari toilet, apalagi penyakit ini tertular melalui makanan dan minuman.

Khusus untuk yang mengurus orang sakit dengan hepatitis A harus menjaga daya tahan tubuhnya dengan baik kalau perlu dengan mengonsumsi suplemen vitamin atau mineral. Vaksinasi hepatitis virus A sebaiknya diberikan bagi orang yang memang akan berkunjung pada daerah yang sedang terjangkit KLB atau wabah 2 minggu sebelum berada di lokasi terjadinya KLB.

 
Penulis: Dr. Ari F. Syam Sp.Pd
Editor : Lusia Kus Anna

Kenali 5 Jenis Penyakit Hepatitis

Kita baru saja dikejutkan oleh berita mengenai belasan mahasiswa IPB yang terkena hepatitis A. Sebenarnya, apa itu hepatitis dan mengapa ada sebutan Hepatitis A, Hepatitis B, dan seterusnya?
Menurut WHO, hepatitis adalah kondisi peradangan hati. Peradangan ini dapat terbatas atau  berkembang menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau kanker hati.
Virus adalah penyebab paling umum  hepatitis. Tetapi, infeksi hati atau liver juga dapat  dipicu oleh zat beracun (misalnya alkohol dan obat-obatan tertentu). Penyakit autoimun juga dapat menyebabkan hepatitis.

Lima jenis virus
Ada lima jenis virus hepatitis, disebut sebagai tipe A, B, C, D dan E. Kelima jenis virus ini menjadi perhatian, karena beban penyakit dan kematian yang mereka bawa, serta berpotensi menyebabkan  wabah  dan epidemi.
Secara khusus, jenis B dan C  menyebabkan penyakit kronis pada ratusan juta orang dan menjadi penyebab paling umum  sirosis (pengerasan) dan kanker hati.
Infeksi virus hepatitis dapat terjadi dengan tanpa gejala, sedikit gejala, atau dengan gejala nyata seperti  penyakit kuning (kulit dan mata menjadi kuning), urin berwarna gelap, kelelahan ekstrim, mual, muntah dan sakit perut, hilang nafsu makan dan pada hepatitis B kadang disertai sakit di persendian.

- Virus hepatitis A (HAV)
Ada di dalam tinja orang yang terinfeksi dan paling sering ditularkan melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi. Kontak seksual juga dapat menjadi media penyebar HAV. Dalam banyak kasus ringan, penderita bisa pulih dan kemudian kebal terhadap HAV.
Namun, infeksi HAV  yang parah daapat mengancam kehidupan. Ada banyak orang di daerah dengan sanitasi buruk, terinfeksi virus ini. Saat ini, sudah tersedia vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah HAV.  Anda bisa menanyakan kepada dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkannya.


- Virus hepatitis B (HBV)
Ditularkan melalui kontak dengan darah yang terinfeksi melalui transfusi  atau produk darah yang terkena virus,  alat medis dan jarum suntik narkoba dan tato yang terkontaminasi, air mani, serta cairan tubuh lainnya.
HBV juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat proses persalinan dan  dari anggota keluarga yang terinfeksi ke  bayi atau anak usia dini. Vaksin yang aman dan efektif juga sudah tersedia untuk mencegah HBV.


- Virus hepatitis C (HCV)
Sedangkan, sebagian besar virus hepatitis C (HCV)  ditularkan melalui paparan darah. Hal ini bisa terjadi melalui transfusi darah dan produk darah  yang terkontaminasi, jarum  atau suntikan yang terkontaminasi.
Transmisi seksual juga bisa menyebarkan HCV tapi jarang terjadi. Sayangnya, belum ada vaksin untuk mencegah HCV, pengadaan vaksin masih dalam tahap penelitian.


- Virus hepatitis D (HDV)
Infeksi virus hepatitis D (HDV) hanya terjadi pada mereka yang terinfeksi HBV. Infeksi ganda HDV dan HBV dapat mengakibatkan penyakit yang lebih serius.  Tapi, vaksin hepatitis B juga memberikan perlindungan terhadap HDV.


- Virus hepatitis E (HEV)
Virus hepatitis E (HEV) sebagian besar ditularkan melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi. HEV merupakan penyebab umum dari wabah hepatitis di negara-negara berkembang.
Vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi HEV telah dikembangkan, tetapi tidak banyak tersedia.

Dapatkah hepatitis diobati?
Jika Anda menderita hepatitis A, dokter akan memeriksa lebih dulu seberapa baiknya liver Anda bisa bekerja. Jika infeksinya ringan dan kekebalan tubuh Anda prima, liver akan membaik, biasanya dalam waktu dua bulan. Jika sudah parah, belum ada obat untuk menyembuhkannya, demikian yang dilansir dari situs kesehatan WebMD.
Untuk hepatitis B, kondisi infeksi ringan dapat membaik dengan sendirinya berkat sistem imunitas tubuh. Pengobatan antivirus dapat digunakan untuk membantu penyembuhan, namun hanya diberikan pada infeksi yang sudah parah.
Meski sudah diobati, virus tetap ada di dalam tubuh hanya saja tidak aktif. Virus ini bisa aktif lagi jika sistem imun Anda rendah atau pada kasus khusus tertentu seperti penggunaan obat jenis imuno supresif, lansia atau pengidap HIV.
Beberapa obat yang mungkin akan disarankan oleh dokter untuk terapi jangka panjang hepatitis B:
Adefovir (Hepsera)
Entecavir (Baraclude)
Interferon
Lamivudine (Epivir)

Untuk hepatitis C dapat disembuhkan dengan pengobatan anti-viral dengan tingkat kesembuhan antara 75-100 persen. Beberapa pasien mengalami kemajuan yang berarti dengan duet obat peginterferon alpha dan ribavirin. Tapi, duo ini bisa menimbulkan efek samping di antaranya adalah anemia ringan dan  bayi cacat lahir.

Dokter Anda mungkin juga akan menyarankan jenis obat lain seperti:
Boceprevir (Victrelis)
Ombitasvir-paritaprevir-dasabuvir-ritonavir (Viekira Pak)
Ledipasvir-sofosbuvir (Harvoni)
Simeprevir (Olysio)
Sofosbuvir (Sovaldi)
Telaprevir (Incivek)
Penulis: Lily Turangan
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber: WHO, WebMD

Setelah Sunat Anak Jadi Cepat Besar?

Sirkumsisi atau yang biasa dikenal sebagai sunat merupakan pembedahan untuk menghilangkan sebagian kulit yang menutupi kepala penis. Sunat memiliki dampak positif terhadap kesehatan dan kebersihan, selain tradisi ini merupakan perintah dari ajaran adat maupun agama.

Meski begitu tetap saja ada mitos-mitos seputar sunat yang berkembang. Ada yang tampaknya berhubungan secara medis, ada pula yang tidak berhubungan sama sekali, bahkan mengarah kepada takhayul.

Dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS dari klinik Rumah Sunatan menjelaskan fakta-fakta mengenai sunat dalam acara launching produk "Mahdian Klem" di Jakarta (12/12/15).

Mitos 1: Setelah sunat, pertumbuhan anak jadi lebih cepat
Faktanya pertumbuhan seorang anak tidak berhubungan langsung dengan sunat. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan adalah hormon, gizi dan keturunan.

"Hanya kebetulan saja kalau misalnya anak setelah di sunat menjadi lebih cepat. Karena budaya orang Indonesia di sunat bersamaan dengan usia masa pertumbuhan, yaitu sekitar 10 - 12 tahun" kata dr. Mahdian.

Mitos 2: Tidak boleh makan telur dan daging setelah sunat
Mitos ini salah. Menurur dr. Mahdian, justru makanan tersebut mengandung protein tinggi yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Manfaat protein adalah untuk membentuk jaringan sel yang rusak dan berperan dalam tumbuh kembang anak.

Mitos 3: Ada anak yang disunat jin
Ini sudah jelas salah. Ada gangguan pada penis yang menyebabkan kulup penis tertarik ke belakang dan tidak bisa dikembalikan. (Baca juga: Penjelasan Medis Fenomena Disunat Jin)

"Misalnya saat anak sedang bermain, lalu kulup atau kulit kepala penisnya menjadi tertarik ke belakang dan tidak dapat kembali seperti semula. Ini sekilas seperti sudah di sunat. Kalau terjadi seperti ini, sunat justru perlu dilakukan untuk membuang kulit tersebut" paparnya. (Muthia Zulfa)
Editor : Lusia Kus Anna